Prevalensi Nematoda Gastrointestinal bibit Sapi Bali Di Nusa Penida
Abstrak
Nusa Penida merupakan daerah pemurnian dan pembibitan sapi bali, dengan sistem pemeliharaan yang konvensional, sehingga berpotensi untuk terserang parasit terutama nematoda gastrointestinal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi dan jenis nematoda gastrointestinal pada bibit sapi bali di Nusa Penida. Sampel penelitian berupa feses diambil dari 50 ekor sapi yang dipelihara di kandang (simantri) dan 50 sampel yang tidak dikandangkan. Metode apung digunakan untuk pemeriksaan morfologi dan prevalensi, data dianalisis dengan analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan, prevalensi nematoda gastrointestinal bibit sapi bali di Nusa Penida sebesar 25%. Prevalensi nematode pada sapi bali yang di kandangkan lebih rendah dibandingkan dengan tidak di kandangkan. Jenis nematoda gastrointestinal yang ditemukan : Strongyloides papillosus dan Capillaria bovis.
##plugins.generic.usageStats.downloads##
Referensi
Direktorat Perbibitan Ternak Direktoral Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementrian Pertanian dan Kesehatan Hewan. 2014. Penguatan pembibitan sapi asli/lokal di pulau terpilih (Pulo Raya, Pulau Nusa Penida, dan Pulau Sapudi) dan penguatan pembibitan sapi potong di kabupaten terpilih (Siak, Pasaman Barat, Lampung Selatan, Kebumen, Barito Kuala, Barru, Gunung Kidul dan Lombok Tengah). Jakarta.
Dimander SO, Hoglund J, Uggla A, Sporndly E, Waller PJ. 2003. Evaluation of gastrointestinal nematode parasite control strategies forrst-season grazing cattle in Sweden. Vet Parasitol 111: 193–209.
Fadli M, Oka IB, Suratma NA. 2014. Prevalensi Nematoda Gastrointestinal padaSapi Bali yang DipeliharaPeternak di DesaSobangan, Mengwi, Badung. Indonesia Medicus Veterinus 3(5): 411-422.
Forbes AB, Huckle CA, Gibb MJ, Rook AJ, Nuthall R. 2000. Evaluation of the effects of nematode parasitism on grazing behaviour, herbage intake and growth in young grazing cattle. Vet Parasitol 90: 111–118.
Gasbarre LC, Leighton EA, Sonstergard T. 2001. Role of the bovine immune system and genome in resistance to gastrointestinal nematodes’, Vet Parasitol 98. 51–56.
Junaidi M, Sambodo P, Nurhayati P. 2014. Prevalensi Nematoda pada Sapi Bali di Kabupaten Manokwari. JSV 32 (2).
Moyo DZ. 2006. An Abbatoir Study of Prevalence and Seasonal Fluctutions of Gastrointestinal Nematoedes of Cattle in the Midlands Province, Zimbabwe. J Anim Vet Sci 1(1):37-40.
Mustika I, Riza ZA. 2004. Peluang pemanfaatan jamur Nematofagus untuk mengendalikan Nematoda parasit pada tanaman dan ternak. J Litbang Pertanian 23(4): 115
Novobilsky A, Mueller-Harvey I, Thamsborg SM, 2011. Condensed tannins act against cattle nematodes. J Vet Parasitol 182, 213–220.
Regassa F, Sori T, Dhuguma R, Kiros Y. 2006. Epidemiology of gastrointestinal parasites of ruminants in Western Oromia.Ethiopia. Int J Appl Res Vet Med 4(1).
Suwiti NK, Sampurna IP, Watiniasih, Puja N. 2013. Peningkatan Produksi Sapi Bali Unggul Melalui Pengembangan Model Peternakan Terintegrasi. LaporanTahap II penprinas MP3EI 2011-2015
Sugama IN, Suyasa IN. 2011. Keragaman Infeksi Parasit Gastrointestinal Pada Sapi Bali Model Kandang Simantri. Balai Pengkajian Teknologi Pertranian. Bali
Tim Pusat Kajian Sapi Bali-Unud. 2012. Sapi Bali Sumber Genetik Asli Indonesia. Edisi 1, Udayana University Press, Denpasar.
Yasa IWS. 2011. Identifikasi Cacing Nematoda Saluran Pencernaan pada Sapi Bali yang Dipelihara Di Petang ,Kecamatan Petang, Badung. Indonesia Medicus Veterinus 4(1): 81-85.
Yeung KJA, Smith A, Zhao A, Madden KB, Elfrey J, Sullivan C. 2005. Impact of vitamin E or selenium deciency on nematode-induced alteraons in murine intesnal funcion, Experimental Parasitol 109: 201–208
Zajac AM, Conboy GA. 2012.Veterinary Clinical Parasitology. 8th ed. John Wiley & Sons, Inc. UK.


