Seks Rasio pada Anak Tikus yang Dilahirkan Akibat Pemberian Bee Pollen
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tentang efektivitas bee pollen dalam penentuan jenis kelamin pada anak tikus. Penelitian ini bersifat eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 3 perlakuan dan 1 kontrol. Pada kontrol tikus tidak diberikan bee pollen. Kemudian pada P1 hanya tikus betina yang diberikan bee pollen (18mg), pada P2 bee pollen hanya diberikan pada tikus jantan (22mg), sedangkan pada P3 bee pollen diberikan pada tikus jantan dan betina dengan dosis yang sama. Setelah pemberian bee pollen selama 49 hari, tikus jantan dan betina dikawinkan, dan setelah 21 hari lama kebuntingan, anak tikus yang baru lahir dihitung seks rasionya. Data kemudian dianalisis dengan ANOVA dan dilanjutkan dengan Uji Duncan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa bee pollen mampu meningkatkan presentase jenis kelamin jantan anak tikus. Hal ini dikarenakan pemberian bee pollen pada individu (tikus) jantan memungkinkan spermatozoa berkromosom Y yang lebih banyak dihasilkan dan bertahan hidup dalam kondisi basa. Apabila diberikan pada individu (tikus) betina dapat menyebabkan kondisi alkalis pada saluran reproduksi betina. Kondisi ini menguntungkan androsperma karena dapat bergerak lebih cepat dan gesit daripada gynosperma. Oleh karena sperma Y (andosperma) atau sperma jantan lebih dulu mencapai sel telur dan membuahinya maka anak tikus yang dihasilkan lebih banyak berjenis kelamin jantan. Pemberian bee pollen pada individu jantan dan betina sekaligus dapat meningkatkan seks rasio anak tikus yang berjenis kelamin jantan.
##plugins.generic.usageStats.downloads##
Referensi
Attia YA, Abd AAE, Ibrahim MS, Al-Harthi MA, Bovera F, Elnaggar AS. 2014. Productive, performance, biochemical and hematological traits of broiler chikens supplemented with propolis, bee pollen, and mannam oligosaccharides continuously or intermittently. Live. Sci. 164(1): 87-95.
Bakry S, Oun AE, Soltan S, Taha A, Kadry E. 2016. Preconceptional minerals administration skewed sex ratio in rat offspring. J. Obstet. Gynecol. 4(1): 11-15.
Campos MGR, Almeida MLB, Szczesna T, Mancebo Y, Frigerio C, Ferreira F. 2008. Pollen composition and standardisation of analytical methods. J. Apicultural Res. 47(2): 154-161.
Estenvinho LM, Morais M, Moreira L, Feas X. 2011. Honeybee-collected pollen from five portuguese natural parks: palynological origin, phenolic content, antioxidant properties and antimicrobial activity. Food Chem. Toxicol. 49(5): 1096-1101.
Hosseini SE, Mehrabanu D, Razavi FS, Rafieirad M. 2013. The effect of palm pollen aqueous extract on the sex ratio of offspring in mice strain BALB. Quarterly Horizon Med. Sci. 15(2): 121-128.
Laksmi DNDI, Trilaksana IGNB, Prananda HWA. 2022. Kadar hormon estrogen pada sapi bali saat pubertas. Bul. Vet. Udayana. 14(3): 197-201.
Mukti AT. 2009. Pengaruh suplemen madu dalam pakan induk betina terhadap presentase jantan dan betina, pertumbuhan dan kelangsungan hidup benih lobster air tawar red claw. J. Akuakultur Indon. 8(1): 37-45.
Prasojo G, Arifiantini I, Mohamad K. 2010. Korelasi antara lama kebuntingan, bobot lahir dan jenis kelamin pedet hasil inseminasi buatan pada sapi bali. J. Vet. 11(1): 41-45.
Riyanto A. 2001. Pengaruh pemberian suplemen madu pada induk mencit terhadap rasio jenis kelamin anaknya. Berita Biol. 5(4): 439-440.
Rosalina D, Amelisa D. 2020. Konsentrasi madu pelawan yang berbeda terhadap nisbah kelamin ikan gapi. J. Airaha. 9(2): 202-208.
Sever DM, Halliday T, Waights V, Brown J, Davies HA, Moriarty EC. 1999. Sperm storage in female of the smoth new (triturus vulgaris L) ultrastructure of the spemathecal during the breeding season. J. Exp. Zool. 283:51-70.
Steel RGD, Torrie JH. 1993. Prinsip dan prosedure statistika suatu pendekatan biometrik. Ahli bahasa Ir B. Sumantri. Ed II. Gramedia. Jakarta.
Turner CD, Bagnara JJ. 1976. Endokrinologi umum. Ed VI. Airlangga University Press. Surabaya.
Velladurai C, Selvaraju M, Napolean RE. 2016. Effects of macro and micro mineral on reproduction in dairy cattle a review. Int. J. Sci. Res. Sci. Technol. 2(1): 68-7.


