Makna simbolik bahasa ritual pertanian masyarakat Bali

  • Ni Wayan Sartini Universitas Airlangga
##plugins.pubIds.doi.readerDisplayName## https://doi.org/10.24843/JKB.2017.v07.i02.p06

Abstrak

Penelitian ini dilakukan untuk melestarikan ritual pertanian dan mengkaji makna simbolik dan kearifan lokal yang terdapat dalam wacana ritual pertanian. Lokasi penelitian dilakukan di Subak Kedua Pasedahan Yeh Lauh Desa Peguyangan Kangin Kecamatan Denpasar Barat, Bali. Pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara dan pustaka. Dari data yang telah dikumpulkan,  ditemukan ada dua puluh empat tahapan ritual yang seharusnya dilakukan oleh petani. Berbagai ritual yang  dilakukan oleh petani di Bali menunjukkan sifat religius petani dan sangat menghargai tradisi budayanya. Setiap ritual yang dilakukan mulai dari awal pengerjaan sawah sampai panen  mengandung makna simbolik  dan  nilai-nilai budaya yang dianut dan dipedomani sebagai penuntun dalam kehidupan bertani. Dari analisis terhadap wacana ritual pertanian , dapat disimpulkan bahwa  makna simbolik ritual yang dilakukan petani  adalah (1) ucapan terima kasih kepada Tuhan atas anugrah panen yang baik dan melimpah, (2) permohonan ijin kepada Ibu Pertiwi sebagai manisfestasi Tuhan penguasa tanah karena para petani akan mengerjakan sawah; (3) permohonan keselamatan kepada Tuhan (Dewi Sri) agar pertanian dapat berhasil baik, (4) persembahan kepada penguasa sawah agar terhindar dari segala macam hama yang merusak tanaman, (5) menjaga keseimbangan lingkungan. Dalam filosofi masyarakat Hindu Bali hal itu  merupakan penerapan  konsep Tri Hita Karana.

##plugins.generic.usageStats.downloads##

##plugins.generic.usageStats.noStats##
Diterbitkan
2017-10-31
##submission.howToCite##
SARTINI, Ni Wayan. Makna simbolik bahasa ritual pertanian masyarakat Bali. Jurnal Kajian Bali (Journal of Bali Studies), [S.l.], v. 7, n. 2, p. 99-120, oct. 2017. ISSN 2580-0698. Tersedia pada: <http://103.29.196.112/index.php/kajianbali/article/view/35159>. Tanggal Akses: 04 mar. 2026 doi: https://doi.org/10.24843/JKB.2017.v07.i02.p06.