Pemberian Tepung Temulawak yang Dicampur dalam Pakan terhadap Perubahan Tinggi Vili Jejenum Ayam Pedaging
Abstrak
Ayam pedaging memiliki daya produktivitas yang tinggi dalam produksi daging ayam. Semakin tinggi villi usus halus, semakin besar efektifitas penyerapan sari-sari makanan melalui epitel usus halus. Zat gizi yang terkandung dalam temulawak adalah kurkuminoid, mineral, minyak atsiri, minyak lemak, karbohidrat, dan protein. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan perubahan tinggi vili jejenum ayam pedaging akibat pemberian tepung temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) dalam beberapa dosis dalam pakan. Sampel penelitian ini menggunakan 40 ayam pedaging jantan umur 14 hari dengan berat rata-rata 420g bersamaan dibagi menjadi 4 perlakuan terdiri atas 10 ulangan. P0 adalah ayam pedaging sebagai kontrol tanpa diberikan tepung temulawak dan hanya diberikan pakan saja. P1 adalah ayam pedaging yang diberikan tepung temulawak sebanyak 10 g/kg pakan dengan mencampurkan kedalam pakan. P2 adalah ayam pedaging yang diberikan tepung temulawak sebanyak 20 g/kg pakan dengan mencampurkan kedalam pakan. P3 adalah ayam pedaging yang diberikan tepung temulawak sebanyak 30 g/kg pakan dengan mencampurkan kedalam pakan, pada hari ke-35 ayam pedaging di nekropsi dan di ambil organ jejenum. Hasil analisis menunjukkan bahwa perlakuan P2 dan P3 tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap kontrol (P0), akan tetapi P1 berbeda nyata (P<0,05) terhadap P0, P2 dan P3, pada perlakuan P2 tidak berbeda nyata (P>0,05) dengan P3. Simpulan penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian tepung temulawak sebanyak 10 g/kg pakan, mampu meningkatkan tinggi vili jejenum ayam pedaging.
##plugins.generic.usageStats.downloads##
Referensi
Chattopadhyay MK. 2014. Use of antibiotics as feed additives: a burning question. Front. Microbiol., 5(334): 1-3.
Daud M. 2005. Performan ayam pedaging yang diberi probiotik dan prebiotik dalam ransum J. Ilmu Ternak., 5(2): 75-79.
El-Husseiny OM, Abdallah AG, Abdel-Latif KO. 2008. The influence of biological feed additives on broiler performance. Int. J. Poult. Sci., 7(9): 862-871.
Jin LZ, Ho YW, Abdullah N, Jalaludin S. 1997. Probiotics in poultry: modes of action. J. World’s Poult. Sci., 53: 351-368.
Kasiran. 2009. Peningkatan kandungan minyak atsiri temulawak sebagai bahan baku obat. Bul. Penelitian Sistem Kesehatan, 12(1): 49-54.
Lenhardt L, Mozes S. 2003. Morpho-logical and functional changes of the small intestine in growth-stunted broilers. Acta Vet. Brno., 72: 353-358
Mulyantini NGA. 2010. Ilmu Manajemen Ternak Unggas. Yogjakarta: Gadjah Mada University Press
Murtidjo. 1987. Pedoman Beternak Ayam Broiler. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.
Nurjanah N, Yuliani S, Sembiring AB. 1994. Temulawak (Curcuma xanthorrhiza). Review Hasil-Hasil Penelitian. Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat., 10(2): 43-57.
Purnomowati S, Yoganingrum A. 1997. Temulawak (Curcuma xanthorhiza Roxb.). Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah, LIPI, Jakarta. Pp. 44.
Raharjo M, Rostiana O. 2003. Standar Prosedur Operasional Budidaya Temulawak. Sirkular No. 8. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Balittro, Bogor. Pp. 33-38.
Rahayu IHS, Darwati S, Mu’is A. 2019. Morfometrik Ayam Broiler dengan Pemeliharaan Intensif dan Akses Free Range di Daerah Tropis. J. Ilmu Prod. Teknol. Hasil Peternakan, 7(2): 75-80.
Taryono EM, Rahmat S, Sardina A. 1987. Plasma nutfah tanaman temu-temuan. Ballittro., 3(1): 47-56.
Sufriyanto, Indradji M. 2005. Efektivitas pemberian ekstrak temulawak (Curcumae xanthoriza) dan kunyit (Curcumae domestica) sebagai immunostimulator flu burung pada ayam niaga pedaging. Anim. Prod., 9(3): 178-183.


