Ekstrak Etanol Sarang Semut Menyebabkan Kerusakan Struktur Histologi Ginjal Mencit
Abstrak
Analisis kimia menunjukkan bahwa tumbuhan sarang semut (Myrmecodia pendans) memiliki berbagai kandungan senyawa kimia dari golongan flavonoid, tannin, tokoferol, multimineral dan polisakarida. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh ekstrak etanol sarang semut terhadap gambaran histopatologi ginjal mencit (Mus musculus) jantan. Penelitian ini menggunakan 24 ekor mencit jantan dengan umur 10-12 minggu yang secara klinis dinyatakan sehat dengan berat 25-35 g. Secara acak seluruh mencit dibagi menjadi 4 kelompok perlakuan, masing-masing kelompok perlakuan terdiri atas 6 ekor mencit. Kelompok P0 adalah kelompok kontrol negatif yang diberikan pakan standar dan aquades, P1 adalah kelompok yang diberikan pakan standar dan ekstrak etanol sarang semut dengan dosis 100 mg/kg BB, P2 adalah kelompok yang diberikan pakan standar dan ekstrak etanol sarang semut dengan dosis 200 mg/kg BB, P3 adalah kelompok yang diberikan pakan standar dan ekstrak etanol sarang semut dengan dosis 300 mg/kg BB. Setelah perlakuan selesai pada hari ke-21, organ ginjal diambil untuk dibuat preparat histologi dan diwarnai dengan metode haematoksilin-eosin. Variabel yang diperiksa adalah perdarahan, degenerasi melemak, dan nekrosis di tubulus proksimal ginjal. Hasil uji Kruskall-Wallis menunjukkan pemberian ekstrak etanol sarang semut berpengaruh nyata (P?0,05) terhadap timbulnya perdarahan pada tubulus ginjal. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol sarang semut dengan dosis 300 mg/kg BB dapat menyebabkan perubahan histopatologi ginjal berupa perdarahan, degenerasi melemak, dan nekrosis.
##plugins.generic.usageStats.downloads##
Referensi
Ajila CM, Rao LJ, Rao UJ. 2010. Characterization of bioactive compounds from raw and rip Mangifera indica L. peel extracts. Food Chem. Toxic. 48:3406–3411.
Alam S, Waluyo S. 2006. Sarang Semut Primadona Baru dari Papua. Majalah Nirmala. PT Gramedia. Pustaka Utama. Jakarta.
Beecher GR. 2003. Overview of dietary flavonoids: nomenclature, occurrence and intake. J. Nutr. 133:3248S-3254S.
Davide B, Ersilia B, Corrado C, Ugo L, Giuseppe G. 2011. Distribution of C- and O-glycosyl flavonoids (3-hydroxy-3methylglutaryl)glycosyl flavanones and furocoumarins in Citrus aurantium L. juice. Food Chem. 124: 576–582.
Guyton AC, Hall JE. 1997. Ginjal dan Cairan Tubuh. In: Setiawan I, Editor. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. 9th ed. Jakarta: EGC; Pp. 375-437.
Harun N, Syari W. 2002. Aktivitas antioksidan ekstrak daun dewa dalam menghambat sifat hepatotoksik halotan dengan dosis sub anastesi pada mencit. J. Sains Teknol. Farm.7(2): 63-70.
Katzung BG. 2001. Farmakologi Dasar dan Klinik. Vol. 1. Jakarta: EGC.
Khanbabae K, Van RT. 2001. Tannins: Classification and Definition. Nat. Prod. Rep. 18: 641-49.
Kiernan JA. 1990. Histological dan Histochemical Methods: Theory and Practice. 2nd Ed. Pergamon Press. Pp. 330-354.
Leong CN, Tako M, Hanashiro I, Tamaki H. 2008. Antioxidant flavonoid glycosides from the leaves of Ficus pumila L. Food Chem. 109(2): 415-420.
Lu FC. 1991. Basic Toxicology: Fundamentals, Target Organs, and Risks Assements, diterjemahkan oleh Edi Nugroho, 47, Hemisphere Publishing Corporation, Washington DC.
Manna P, Sinha M, Edward PC. 2009. Protective Role of Arjunolic Acid in Response to Streptozotocin Induced Type-I Diabetes via Mitochondrial Dependent and Independent Pathways. Toxicol. 257: 53-56.
Merken HM dan Beecher GR. 2000. Liquid chromatographic method for the separation and quantification of prominent flavonoid aglycones. J. Chromatography. 897: 177–184.
Nabib R. 1987. Patologi Khusus Veteriner. Edisi 2 Proyek Peningkatan Pengembangan Perguruan Tinggi. IPB.
Resang AA. 1984. Patologi Khusus Veteriner. 2nd Ed. Percetakan Denpasar. Pp. 25-248.
Silalahi J. 2002. Senyawa polifenol sebagai komponen aktif yang berkhasiat dalam teh. Majalah Kedokteran Indonesia. 52(10): 361-4.
Simanjuntak F dan Subroto MA. 2010. Isolasi Senyawa Aktif dari Ekstrak Hipokotil Sarang Semut (Myrmecodia pendens Merr. dan Perry) sebagai Penghambat Xantin oksidase. J. Ilmu Kefarmasian Indonesia. 8(1): 49-54.
Subroto MA, Saputro H. 2006. Gempur Penyakit dengan Sarang Semut. Penebar Swaday, Jakarta. Pp. 21-28.
Syahnur SR. 2011. Isolasi dan Karakterisasi Triterpenoid dari Tumbuhan Sarang Semut. Skripsi. Universitas Andalas. Padang.
Tian XJ, Yang XW, Yang X, Wang K. 2009. Studies of intestinal permeability of 36 flavonoids using Caco-2 cell monolayer model. Int. J. Pharm. 367: 58–64.


